tausendsunny

sailing the ocean of life

  • 30th September
    2014
  • 30

Surat Terbuka Untuk Kepala Stasiun Manggarai

rainyrens:

image

Ketika surat-surat yang berada di dalam kotak saran sudah tak lagi di baca, sudah saatnya media yang menyadarkannya.

Fungsi dari adanya kotak saran itu adalah menampung semua keluh kesah dari sang pengguna, bukan hanya sebagai pajangan yang harus ada tapi tak berdaya guna.

——————————————

"Surat Terbuka Untuk Kepala Stasiun Manggarai"

Assalamu’alaykum pak/bu. Saya Reni Anggraeni. Mahasiswa. Muslimah. Pengguna setia commuter line. Manusia yang menghabiskan hampir 25 menit dari waktunya untuk mengantri agar bisa sholat maghrib di mushollah mini stasiun Manggarai.  Saya seorang commuter juga. Berdomisili di Depok namun kuliah di Jakarta.

Saya yang selalu mengikuti perubahan kondisi fisik dari stasiun Manggarai. Mulai dari tahun 2012 saya mulai menjadi anak kereta. Pada saat itu pedagang kaki lima masih diperbolehkan untuk menjajakan dagangannya di dalam stasiun, peron pada khususnya. Pendagang-pedagang di Peron itu menjual Aqua botol seharga Rp. 3.000,- sedangkan di Indomaret point (karena pada saat itu hanya ada Indomaret Point) pun menjual Aqua botol seharga Rp. 2.500,-

Kondisi mushollah pada saat itu hanya seukuran kamar anak kost berbiaya Rp. 300.000,- perbulan, dan itu pun dibagi dua antara laki-laki dan perempuannya serta di samping mushollah tersebut terdapat kamar mandi. Tidak layak sebenarnya jika bangunan itu dijadikan tempat sholat.

Setelah CEO PT. KAI yang bernama Jonan itu mengeluarkan kebijakan menggusur pedagang yang ada di stasiun hingga sapu bersih tanpa tanggungjawab. Stasiun Manggarai mulai berubah menjadi penampung mini market, seperti mushollahnya yang mini.

Beberapa bulan kemudian, Indomaret Point masih menjadi satu-satunya tumpuan untuk penumpang kereta membeli minum atau sekedar cemilan. Renovasi mulai terjadi di banyak sisi di stasiun Manggarai ini, dimulai dari pemindahan loket dan pintu masuk, kamar mandi hingga mushollah. Jujur, saya senang sekali ketika mendengar mushollah di stasiun Manggarai ini sedang direnovasi. Ekspektasi saya, mushollah di stasiun Manggarai akan di tingkat dua atau minimal lebih luas dan mempunyai tempat wudhu yang layak. Harapan tinggallah harapan, mushollah di stasiun Manggarai tetaplah mini.

Hingga akhirnya kini, stasiun Manggarai layaknya mall setelah Indomaret berdiri, kemudian menyusul Seven Eleven, Roti O, KFC, dan yang teranyar starbuck dan Q buble (maaf kalau tulisannya salah).

Pertanyaannya, bisakah pembangunan segala macam minimarket, tempat kopi atau apalah itu di stasiun Manggarai dihentikan? Apa gunanya ada Indomaret jika Sevel pun ada? Padahal sama-sama menjual minuman dan makanan ringan? Apa gunanya Roti O, dan starbuck ada jika sama-sama menjual kopi dan roti? Padahal kopi dan roti itu kita bisa dapatkan di Indomaret ataupun Sevel? Apa gunanya KFC ada jika Sevel ada? Padahal sama-sama menjual nasi dan ayam goreng?

Kenapa pengelola stasiun Manggarai tidak memperhatikan pemugaran mushollahnya? Tahu kah kawan, stasiun Manggarai selalu dikunjungi oleh ratusan bahkan ribuan orang setiap maghribnya, entah itu yang mau pulang ke arah Bogor, Bekasi, Tangerang, Jatinegara ataupun Jakarta Kota dll. Biasanya diantara ratusan bahkan ribuan manusia itu separuhnya akan menunaikan sholat maghrib di mushollah mini tersebut. Dan kondisi dari mushollah itu sungguh tidak layak. Kalau dihitung mushollah tersebut hanya bisa menampung 20 orang saja. Sisanya masih harus mengantri giliran dengan yang lain. Pernah suatu ketika bapak-bapak menunaikan sholat maghrib di teras mushollahnya, dengan kondisi kotor dan beralaskan koran. Dia berujar “Maghrib keburu abis neng, udah jam berapa ini.” Mungkin, tidak hanya bapak ini yang bernasib demikian. Masih banyak pengguna kereta yang lain yang bernasib sama.

Bagaimana ini pak/bu? Berulang kali saya memasukkan surat ke dalam kotak saran yang berisi meminta pemugaran mushollah kembali tapi tak pernah ada respon positif dari pengelola stasiun. Yang ada malah pembangunan mini market yang semakin merajalela. Padahal lebih banyak pegunjung mushollah daripada mini market tersebut.

Saran saya, hentikan pembangunan mini market yang berada di stasiun Manggarai. Jika bingung tidak ada lahan yang bisa dibangun kembali untuk membangun mushollah, saya menyarankan untuk membangun mushollah di tempat loket dan pintu masuk yang lama, lahan tersebut cukup luas daripada lahan mushollah mini yang sekarang.

Surat ini murni pendapat subjektif saya. Mohon maaf jika ada kata yang salah.

Salam Anker (Anak Kereta)!!!!

kemarin saya shalat maghrib di mushala stasiun manggarai. miris. shaf shalat saya “diserobot” sama jamaah yang laki-laki dan mereka ga mau ngalah padahal kita-kita yang wanita udah nempatin shafnya duluan. bahkan, ada loh ibu-ibu shalatnya di luar mushala (di teras yang ukurannya ga seberapa) dan shafnya jadi ga jelas mana yang shaf laki-laki mana shaf yang wanita :”((( 

yah, saya cuma bisa berharap semoga ada perhatian lebih terhadap kebutuhan mushala yang nyaman dan memadai untuk para penumpang komuter. 

maju terus perkeretaapian indonesia. salam dari anak kereta yang turun di stasiun kranji \m/

*brb cari kotak saran*

  • 30th September
    2014
  • 30
  • 30th September
    2014
  • 30
  • 30th September
    2014
  • 30

generic-art:

5-Year-Old With Autism Paints Stunning Masterpieces 

Autism is a poorly-understood neurological disorder that can impair an individual’s ability to engage in various social interactions. But little 5-year-old Iris Grace in the UK is an excellent example of the unexpected gifts that autism can also grant – her exceptional focus and attention to detail have helped her create incredibly beautiful paintings that many of her fans (and buyers) have likened to Monet’s works.

Little Iris is slowly learning to speak, whereas most children have already begun to speak at least a few words by age 2. Along with speech therapy, her parents gradually introduced her to painting, which is when they discovered her amazing talent.

“We have been encouraging Iris to paint to help with speech therapy, joint attention and turn taking,” her mother, Arabella Carter-Johnson, explains on her website. “Then we realised that she is actually really talented and has an incredible concentration span of around 2 hours each time she paints. Her autism has created a style of painting which I have never seen in a child of her age, she has an understanding of colours and how they interact with each other.”

Much better version of the same subject matter I posted earlier.

(via fatenmuhamad)

  • 29th September
    2014
  • 29
Syiar muslim di Austria:
1. Tebarkan senyum indahmu
2. Kuasai bahasa Jerman dan Inggris
3. Selalu jujur dalam berdagang
tulisan di kertas yang ditempel di dinding rumah Fatma (99 Cahaya di Langit Eropa)
  • 29th September
    2014
  • 29
  • 29th September
    2014
  • 29

sayangnya ayah pada putrinya itu sepenuh jiwa | tak mampu dilukis atau diwakilka…

ustadzfelixsiauw:

sayangnya ayah pada putrinya itu sepenuh jiwa | tak mampu dilukis atau diwakilkan kata-kata

bagi ayah, senyum putrinya itu penghapus murka dan letih lelah | airmata putrinya jadi siksa baginya dan sedih putrinya jadi musibah

seorang ayah punya sejuta impian untuk putrinya | walau harus mengorbankan dirinya dia selalu rela

bagi ayah pelukan ikhlas putrinya menyambutnya | bisa jadi lebih berarti dan lebih indah dari bahagia

tidakkah engkau lihat ayah saat menikahkan putrinya | di hadapan ramai bahkan ia tak dapat tahankan airmata

dipandanginya putrinya dalam-dalam dengan tatapan mengharu biru | terbayang jelas semua kenangan mulai putrinya lahir hingga saat itu

segala bentak dan tawa, segala bahagia dan kecewa, semuanya | mendadak terpampang jelas, melekat tak mau lepas, semuanya

bertahun-tahun ingatan itu menjadi satu, mendadak ayah sesalkan | tentang apa yang tak sempat ia lakukan, tentang apa yang ia lewatkan

dan saat itu dia menyadari dalam hidupnya sampai masa ini | tak ada pelepasan yang lebih berat melebihi hari ini

mungkin seorang ayah takkan pernah siap untuk menikahkan anaknya | takkan pernah siap untuk melepaskan bagian dari darah juga jiwanya

bila bukan karena perintah Allah dan sunnah Rasulullah | tentu selama-lamanya ia ingin bersama putrinya

tapi putrinya juga harus bercerita, harus berkeluarga | dan melaksanakan ajaran ayahnya dalam realita nyata

kini tangan lelaki lain yang diridhai putrinya sedang ia genggam | dan hati sang ayah masih gundah, matanya terpejam

yang ayahnya pikirkan | “akankah lelaki ini tepat bagi putriku? akankah ia bisa menjaga putriku sebagaimana aku?”

yang ayahnya pikirkan | “akankah lelaki ini memperlakukan putriku seperti aku? menyayanginya tanpa syarat, mengajarinya tanpa penat?”

yang ayahnya pikirkan | “akankah lelaki ini menyayangi putriku seperti aku? rela berkorban seperti aku pada putriku?”

yang ayahnya pikirkan | “adakah lelaki ini mencintai Allah diatas segala-galanya? adakah dia mampu mengawal putriku menuju surga Allah?”

seribu tanya berlanjut, dan mungkin tiada jawaban | sebagaimana kasih seorang ayah pada putrinya, yang mungkin takkan pernah terjelaskan

bila ada yang paling berhak untuk dimintai izin akan anaknya | maka yakinlah itu jelas ayahnya, pasti ayahnya!

(via ridhwanah)

  • 29th September
    2014
  • 29
  • 28th September
    2014
  • 28
Wina-lah kota terakhir tempat ekspansi Islam terhenti.
Pak Djam’an (99 Cahaya di Langit Eropa)
  • 28th September
    2014
  • 28