tausendsunny

sailing the ocean of life

  • 23rd September
    2014
  • 23
ridhwanah:

taufiqsuryo:

sitaelanda:
soliloquyspeech:


Kalau aku ga memulai duluan, bukan aku ga tertarik sama kamu. Indikator ketertarikanku padamu bukan dari situ. Karena aku emang jarang banget untuk memulai duluan.
Aku tertarik padamu jika aku menjawabmu dengan cepat, penuh antusias dan berusaha menjaga percakapan itu agar tidak akan berakhir (selalu bertanya).
Aku membiarkanmu untuk selalu memulai, agar aku tau seberapa kamu ingin mengobrol denganku.
Jika suatu ketika aku memulai duluan, itu berarti aku membutuhkanmu. :)

uhuuuuk (numpang batuk)
indrikhairatip kangen ih

haha… nod nod

Semacem bener x)

haha *siul siul* 

ridhwanah:

taufiqsuryo:

sitaelanda:

soliloquyspeech:

Kalau aku ga memulai duluan, bukan aku ga tertarik sama kamu. Indikator ketertarikanku padamu bukan dari situ. Karena aku emang jarang banget untuk memulai duluan.

Aku tertarik padamu jika aku menjawabmu dengan cepat, penuh antusias dan berusaha menjaga percakapan itu agar tidak akan berakhir (selalu bertanya).

Aku membiarkanmu untuk selalu memulai, agar aku tau seberapa kamu ingin mengobrol denganku.

Jika suatu ketika aku memulai duluan, itu berarti aku membutuhkanmu. :)

uhuuuuk (numpang batuk)

indrikhairatip kangen ih

haha… nod nod

Semacem bener x)

haha *siul siul* 

(Quelle: psychofactz)

  • 22nd September
    2014
  • 22
  • 22nd September
    2014
  • 22

ini bagus, merinding euy.
buat yang ingin daftar beasiswa LPDP, pun yang sekedar ingin tahu apa yang sedang dibangun sama LPDP, selamat menyimak.

PK LPDP semacam mengingatkan saya sama model pelatihannya FIM. must be so memorable. insyaAllah, PK indah pada waktunya ya :”

banyak wajah-wajah familiar bertaburan di videonyaa x)
tebak siapa nama penyanyi ibukota yang juga penerima beasiswa LPDP dan ada di video ini? ;)

  • 21st September
    2014
  • 21
  • 21st September
    2014
  • 21

"Kehidupan tercipta dari DNA, molekul amat kecil yang menakjubkan. Sebuah rahasia yang menentukan beranekaragam bentuk dan sifat makhluk hidup di bumi. Sebuah pembeda antara aku dan kau"

#Track 2 Hayati (mini album) 2013 - Kode Kode Rahasia

Saksikan bunga bermekaran di taman 
Beraneka warna dan bentuknya 
Saksikan burung terbang mengangkasa
Beraneka rupa dan kicaunya

Oh… dalam tiap-tiap diri kita tersembunyi 
Sebuah rahasia
Yang jadikan kehidupan
Berbeda satu dan lainnya

DNA, penentu sifat lahiriah
Semua kehidupan di muka bumi
DNA bagaikan kode rahasia
Mengandung informasi yang menjadikan kau… kau!

DNA tersimpan dalam inti setiap sel 
Penyusun kau dan aku
Juga semut, pohon, dan paus biru (ya, paus biru)

DNA terdiri dari gula deoksiribosa, fosfat, dan empat basa nitrogen 
Adenin Guanin Timin dan Sitosin terangkai 
Dalam urutan yang berbeda 
Karena itu kita tak serupa meski kita tetap sama

DNA, penentu sifat lahiriah
Semua kehidupan di muka bumi
DNA bagaikan kode rahasia
Mengandung informasi yang menjadikan kau… kau!

lagi kangen masa muda di SITH ITB :”

  • 20th September
    2014
  • 20

キセキ — GReeeeN (Cover by Goosehouse)

Ashita kyou yori egao ni nareru 
Kimi ga iru dake de sou omoeru kara 
Nanjuunen nanbyakunen nanzennen 
Toki wo koeyou 
Kimi wo ai shiteru

i put the piano version in my tumblr :))

  • 20th September
    2014
  • 20

Awas Lubang

zulfikarfirdaus:

Saya punya temen, satu kantor, satu unit apartemen, dari Indonesia juga. Tadi siang kita jumatan bareng, terus balik kantor kita ke supermarket bareng, saya beli snack sebungkus, dia beli beer dua kaleng. Terus udah beli, selama menuju ke unit dari lift, buka sepatu sampe masuk kamar, saya tanya: (sebut saja Z dan R)

Z: R, itu beer berapa sekaleng?

R: berapa ya, 5.60 ringgit

Z: mahal juga ya… boleh ga gua coba?

R: *diam beberapa saat* hmmm… jangan deh, ini khamr jul

Saya punya beberapa temen yang ngerokok dan minum, dan saya kadang-kadang nanya kaya gitu, “kalo gua nyobain ngerokok boleh ga?” atau pertanyaan kaya tadi, selalu jawabannya ga boleh, Karena rokok itu ga baik dan beer itu haram. Padahal mau dijawab boleh juga tetep ga bakal nyoba sih, ngetes doang. Jadi sebenernya mereka itu tau apa bahayanya dan haramnya, tapi semacam udah terlanjur gitu. Dan ketika saya bawa percakapan kaya gini ke temen saya, dia jawabnya:

R: ibaratnya gua udah masuk lobang nih jul, terus lo nanya ke gua, ya gua bakal bilang jangan ikut masuk ke lobang ini. *end of conversation*

Kalo bisa sih saya pengen ngambil tali atau tangga lipet buat narik temen-temen semacam itu dari lobang, tapi memang menurutnya lobang itu walaupun tau bahaya tapi nyaman berada didalamnya. Kita sih yakin kalo kita ga bakal masuk ke lobang itu, tapi gimana caranya narik temen-temen kita keluar dari lobang itu ya?

bang juls baik baik yah di sana~ selipkan namanya dalam doa-doamu bang :”

  • 20th September
    2014
  • 20

Impersonal

beningtirta:

Personal, berarti menyangkut hubungan perorangan. Impersonal… kurang lebih lawan katanya.

Di zaman ini kita sangat terbantu oleh cepatnya akses internet, kemudahan penggunaan fitur-fitur aplikasi, dan keterjangkauan karena perkembangan teknologi elektronika. Teknologi sudah sangat maju karena kepintaran manusia dan insentif untuk menyelesaikan masalah dan… sebut saja kemalasan manusia.

Teknologi telah membantu manusia meningkatkan produktivitasnya. Pekerjaan efisien artinya memakan sumber daya, termasuk waktu, yang minimal untuk hasil dan dampak maksimal. Sayangnya, si teknologi ngelunjak karena kita membiarkannya. Dia telah memasuki kamar-kamar tidur kita, kekhidmatan upacara, meja makan kita, dan seterusnya. Dalam hal ini tentu yang saya maksud adalah foto dan sosial media. Kesakralan telah menjadi biasa karena keharusan mengambil foto. Kebersamaan telah direnggut oleh layar kaca. Orang di sekitar kita jadi kalah penting dibandingkan banyak manusia yang ada dimana-mana–atau entah dimana–namun terhubung dengan internet atau jejaring sosial media. Tegur dan sapa tidak lagi sering terdengar di jalan. Kita berjalan merunduk dan memilih tidak peduli. Kita memutuskan diri kita dari dunia nyata dan memilih terhubung ke dunia yang lebih nyata dan lebih ramai. Ah, ramai dalam sepi.

Berbicara tentang hubungan sosial media tidak lepas dari emotikon dan re-sesuatu, semisal reblog, retweet, repath, etc.. Emotikon yang banyak dipakai adalah yang disediakan oleh aplikasi sosial media berbasis di Jepang. When it is about emoticons, Japanese have them all. Tapi apakah orang Jepang sebegitu ekspresifnya? Atau emotikon tidak lebih dari sekadar permainan peran, aktualisasi diri, dan meminta perhatian? Bagaimanapun, kita harus mensyukuri bagaimana fitur seperti emotikon cukup bisa mewakili ekspresi kita saat komunikasi langsung tidak bisa terjadi.

Tapi apa yang kusangsikan dari kemajuan fitur semacam ini? Ya itu tadi…
1) Emotikon tidak untuk dianggap serius. Maksudnya, emotikons tidak bisa dipercaya. Walaupun kita mengaku tidak polos, kadang kita masih tergelincir akibat kamuflase perasaan lewat emotikon.
2) Aktualisasi diri. Sekarang emotikon bisa dibeli. Ada supply, tentu ada demand–kalau tidak salah sih, saya juga belum pernah beli. Mau tampil beda dan lebay? Bayar dong. Aktualisasi diri lewat media online telah mengajarkan kita bahwa lebay bombai adalah salah satu cara untuk diperhatikan. Tapi coba lihat, apakah yang lebay dengan emotikonnya di Whatsapp atau Line adalah orang yang ekspresif di dunia nyata? Manusia lalu menjadi paradoks–pemalu yang ekspresif.
3) Mencari perhatian. Ini bukan hal buruk, tapi kalau berlebihan maka kau layak ditertawakan.

Reblog retweet, repath.

Blog atau jurnal online pada mulainya adalah wadah untuk berbagi informasi, pendapat, dan cerita. Harapannya ada kelempangan hati setelah menulis unek-unek, terjadinya diskusi karena ada pertukaran pandangan, dan pencerahan soal kehidupan–karena guru terbaik bisa jadi pengalaman orang lain. Dewasa ini, banyak yang menggunakan blog bukan lagi sebagai wadah ekspresi rasa dan pikiran personal, melainkan tempat lalu lalang pikiran orang lain. Tentu ‘sumber’ jumlahnya lebih sedikit daripada buzzer. Banyak blog menjadi begitu tidak personal, dimana fenomena ini difasilitasi dengan fitur re-sesuatu tadi. Bagaimanapun, kita harus bersyukur, karena fitur re- ini bisa dimanfaatkan sebagai wadah penyaluran informasi yang efisien waktu.

Apa lagi yang lebih tidak personal daripada salin (copy)-tempel (paste) ucapan selamat atau do’a? We seem having no time for these matters. Begitu hambarnya ketika 20 teman punya doa yang sama untuk seorang yang berulang tahun, dia member di sebuah grup. Mungkin ini bias, mungkin saya tipe orang yang menghargai usaha perorangan untuk sebuah kehangatan interaksi dan cengkrama. Hmm, apakah kamu tidak menghargai itu? Apakah orang yang kamu doakan tidak lebih bernilai daripada 1-2 menit waktu tambahanmu untuk menuliskan do’a yang personal dan tulus dari hatimu? Jika iya adanya, maka teknologi telah membanting harga sebuah pertemanan dan kebersamaan. Teknologi telah lancang mencabut keperorangan hubungan antarmanusia, dan menyisakan hubungan yang mekanistik dan hanya berlandaskan kepentingan–kalau ada maunya aja… baru nulis yang bener.

Banyak sisi dan spektrum kehidupan kita bermasyarakat dan berteknologi telah tergerus oleh impersonalitas. Ini semacam tren. Saya tak berani bilang ini penyakit atau kesalahan. Toh, dunia ini terus berubah, standar pelan-pelan bergeser. Eh apa standar harga kebersamaan dan pertemanan kita telah jatuh ke tingkat yang mekanistik dan superficial?

  • 20th September
    2014
  • 20
Seringkali, kita cukup luang untuk menggulung timeline dan dashboard, tapi tidak cukup luang untuk menuliskan dan berbagi catatan kehidupan sendiri.
  • 20th September
    2014
  • 20